Peneliti Kanada memperkirakan perut Bumi memiliki cadangan air yang lebih besar dari seluruh lautan yang ada di permukaan Bumi.
Melansir
The Age, Jumat 14 Maret 2014,
keyakinan peneliti itu berdasarkan temuan
batu berlian coklat yang memiliki mineral air tinggi atau sering
disebut ringwooodite. Batu mineral jenis ini tergolong sangat langka.
Temuan
batu mineral itu juga membuka perdebatan lama seputar teori batu langka
tersebut. Untuk diketahui, nama ringwooodite muncul setelah geolog
Australia, Ted Ringwood melontarkan teori mineral yang terjepit pada
zona transisi akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi.
Sepotong
mineral itu banyak dicari sampai hari ini untuk menjawab perdebatan
panjang apakah zona transisi memang kaya air atau hanya bagian
keras
saja.
Batu berlian temuan peneliti itu memang hanya memiliki 1,5 persen air, jadi tidak cair ataupun padat.
Peneliti
menyebutkan, batu itu berasal dari perut Bumi, lebih tepatnya zona
transisi antara lapisan atas dan bawah Bumi.
kedalaman zona adalah
400-600 kilometer di bawah permukaan Bumi.
"Sampel ini
benar-benar mengonfirmasi pada zona ini ada titik lokal basah," jelas
Graham Pearson, pemimpin penelitian dari Universitas Alberta, Kanada.
"Pada zona tertentu di Bumi, yaitu zona transisi,
kemungkinan memiliki air sebanyak semua lautan yang ada di Bumi," tambahnya.
Soal
kisah temuan mineral langka itu sebenarnya terjadi tak disengaja.
Disebutkan pada 2008 silam, pemburu permata amatir menggali
kerikil di
sungai dangkal Juina of Mato Grasso, Brasil.
Pemburu itu menemukan sebuah batu kotor
kecil ukuran tiga milimeter yang disebut berlian coklat.
Menyadari
temuannya itu berharga, sang pemburu
kemudian menjualnya
ke ilmuwan
yang saat itu berada pada pencarian mineral yang lain.
Kemudian
peneliti menganalisis dengan menggunakan spektroskop dan membelokkan
sinar X, untuk memastikan bahwa temuan itu termasuk ringwoodite.
Soal
munculnya batu berlian langka itu dari perut terdalam Bumi, tim
peneliti berteori letusan gunung berapi telah mengeluarkan batu berlian
itu. Batu berlian itu menumpang aliran kimberlite—aliran terdalam semua
batuan vulkanik dan memuntahkannya
ke dalam sungai dangkal.
Temuan ini telah dipublikasikan di Jurnal Nature